DigiMix Roadshow is back!
Melanjutkan suskes penyelenggaraan DigiMix Roadshow yang diadakan selama tahun 2015 ke berbagai daerah di Indonesia, Kairos Multi Jaya kembali mengadakan DigiMix Roadshow dengan kemasan baru yang bertajuk DigiMix Premium!
Hampir sama dengan roadshow yang diselenggarakan tahun lalu, pesan yang dibawa dalam acara ini adalah seputar teknologi digital mixer. Bedanya kali ini akan fokus pada digital mixer terbaru dari Allen&Heath : dLIVE! Sebagai starter, DigiMix Premium akan diselenggarakan pada:
Hari / Tanggal : Selasa, 12 Januari 2016
Waktu : 14:00 s/d Selesai
Tempat : Mabes DSS, Jl. Villa Pratama No. 1&2, Pesanggrahan Permai, Jakarta Selatan.
Melengkapi varian di segmen headphone, Audio-Technica memiliki line up headphone in-ear monitor yang cukup mencuri perhatian di kelasnya. Adapun in-ear monitor headphone Audio-Technica yang cukup dikenal dan diminati di Indonesia adalah seri ATH-IM01, ATH-M02, ATH-IM03 dan ATH-IM-04. Secara garis besar, dari segi bentuk dan material tidak ada perbedaan secara visual. kecuali label atau nama amsing-masing model. Adapun perbedaan secara teknis adalah sebagai berikut:
ATH-IM01 : Single Balanced Armature driver IEM (47 ohms)
Karena salah satu seri yang paling diminati dari ke-empatnya adalah ATH-IM04, maka kali ini kami akan membahas ATH-IM04. Namun tidak menutup kemungkinan, nanti akan kami bahas juga ATH-IM01, ATH-IM02 dan ATH-IM03.
ATH-IM04
ATH-IM04 adalah seri headphone in-ear monitor Audio-Technica yang memiliki 4 driver (quad balanced armature drivers), 2 woofer driver, 1 mid driver dan 1 treble driver, dengan frequency response antara 15-20.000 Hz. Tuning audio yang kompleks dari masing-masing drivers dibagi dan di-distribusikan secara proporsional untuk menghasilkan reproduksi audio yang akurat, natural, smooth dan warmness yang menjanjikan.
ATH-IM04 quad balanced armature drivers
Tidak hanya itu, Audio-Technica juga membuat inovasi khusus dengan mendesain earpieces seal yang pas dan nyaman dipakai di telinga. Setiap pasang dilengkapi dengan 3 silicone earpieces berukuran S/M/L dan Comply™ear buds berukuran M. Sehingga memberikan maksimum experience dalam monitoring. Selain itu, ATH-IM04 juga dilengkapi dengan detachable chord yang mudah dipasang-lepas dan konektor yang berkualitas tinggi.
detachable chord
Pada edisi berikutnya kami akan bahas varian lain dari ATH-IM Series, yaitu ATH-IM01, ATH-IM02 dan ATH-IM03. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi PT. Kairos Multi Jaya, +6221-65833535.
Apa yang membuat speaker RCF ART-745-A layak untuk dilirik? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin pertanyaan berikut akan sedikit memberi petunjuk; "Ada yang belum atau tidak tahu RCF ART-500A?" Active speakers legendaris yang paling banyak dipakai oleh rental-rental di Indonesia. Tentu saja hal tersebut mengindikasikan bahwa ART-500A memang paling laku dan diincar banyak rental. Kalau belum tahu jawabannya, mungkin jawaban berikut dapat memberikan pencerahan. ART-500A terkenal kenceng suaranya, mid-range nya stand out dan bandel alias tidak gampang rusak. Tapi dengan berat yang mencapai 40 Kg tentunya memerlukan tenaga extra untuk mengangkatnya. Belum lagi harus pijat setelah loading out karena pinggang sakit. Hihihihi... Untuk mengulang kejayaan ART-500A yang sukses di pasaran, pabrikan RCF merilis active speaker terbaru yang memiliki keunggulan seperti ART-500A, dengan suara yang kencang, mid yang stand out dan bandel tetapi TIDAK BERAT : RCF ART-745A! Secara kemampuan, ART-745A dibekali dengan SPL tinggi (133 dB), mid yang tegas tapi sopan dan memiliki bobot yang hanya 20 Kg! Setengah dari ART-500A. Jadi 1 orang bisa mengangkat 2 box sekaligus.
Pertanyaan lagi, "kenapa bisa begitu?"
TEKNOLOGI HIGH DRIVER dengan diaphragm yang memiliki berdiameter 4”.
Apa keunggulan diaphragm 4”? *perasaan nanya mulu, hehehehe...
Pada umumnya, kebanyakan speaker aktif memiliki HF driver yang berdiameter 2,5” – 3” dengan crossover point disekitar 1K6 Hz. Area mid-range inilah yang menjadi problem di kebanyakan speaker aktif, yaitu vocal yang kurang natural, mid yang terlalu kasar (gak sopan) dan masih banyak lagi. Hal ini disebabkan karena interaksi kedua driver di frekuensi tersebut.
Jadi, solusinya bagaimana? "Gampang! Rendahkan lagi crossover point untuk HF drivernya!" Jawaban yang cepat dan tepat ala cerdas cermat. Dengan merendahkan cross over point dibawah 800 Hz pasti akan bisa me-repro mid yang natural dan kaya sehingga problem “gak sopan” tadi menyingkir dengan sendirinya.
Lalu kenapa tidak semua speaker aktif menurunkan
crossoverpoint-nya? Tidak semudah itu!
Untuk menurunkan crossover point tersebut, artinya HF driver tersebut harus mampu untuk menahan getaran di frekuensi low mid tersebut (<1kHz), sayang nya kebanyakan HF driver akan rusak pada saat me-repro frekuensi low mid tersebut ( umunya ditandai dengan robek nya diaphragm). Hal ini disebabkan oleh kekerasan (stiffness) dari bahan surround dari compression driver tersebut yang tidak mampu menahan getaran di frekuensi low mid.
Teorinya, 3" dome diaphragm memerlukan excursion yg lebih besar untuk menghasilkan SPL yg sama di frekuensi low mid dibandingkan 4". Bila hanya di besarkan ukurannya saja secara sembarangan, maka compression driver mungkin bisa me-reproduksi low mid tapi tidak akan mampu mengeluarkan high yg baik. Ini dikarenakan titanium standart kurang kaku (stiff) untuk mengasilkan high frequency pada dome dengan voice coil 4".
ART-745A memiliki crossover point pada650 Hz (We Oo We...!) sehingga mampu me-reproduksi suara mid yang sangat natural dan sopan tapi tetep cetar membahana berkat SPL yang gak main-main: 133 dB!
Untuk mencapai objective tersebut, RCF menggunakan bahan titanium yang memiliki grade stiffness teratas dan teknologi REFLEX PORT pada HF surround diaphragm untuk memperendah jangkauan low mid-nya. Artinya HF driver tersebut mampu mereproduksi frekuensi low mid tapi juga cukup stiff untuk menghasilkan frekuensi high yang mumpuni.
Engineer pada bilang kalo crossoverpoint nya bisa sampai 650 Hz, pasti mixing-nya gampang. Lebih jadi suaranya. Nggak percaya? Ya buktikan sendiri.
Kunjungi dealer
RCF terdekat atau Kairos Multi Jaya untuk mendengarkan langsung kualitas RCF ART-745A!
Mungkin bagi Anda para pegiat audio sudah tidak asing lagi dengan mixer Mackie ProFx. Yak! Mixer ini
sangat populer karena dipersenjatai dengan berbagai fitur-fitur nya yang sangat lengkap. Baik di
kalangan rental audio, instalasi maupun venue-venue skala kecil maupun sedang, mixer yang satu ini sangat sering dijumpai.
Mackie telah mengeluarkan ProFXv2 (baca: version two) yang diperkenalkan kepada publik saat penyelenggaraan MusikMesse 2015 di Frankfurt beberapa waktu lalu. Kebetulan saya memiliki
kesempatan untuk mengutak-atik mixer baru ini. Kira-kira apa saja yang baru?
Dan inovasi apa saja yang di berikan di versi dua ini?
VITA™ Preamps
Salah
satu yang menarik perhatian saya dari ProFx versi dua ini adalah pembaharuan di preamp-nya. Setelah sebelumnya sukses dengan preamp XDRmk2,
sekarang Mackie memberikan preamp baru yang diberi nama VITA™. Apa kelebihan
dari VITA™? Preamp ini adalah pengembangan dari preamp sebelumnya yang mampu
memberikan suara yang clean dan low noise dengan menggunakan teknologi dual
feedback stabilization dan biascurrent optimization.
Saya
sempat mencoba mendengarkan karakter preamp ini menggunakan playback instrumen
yang berbeda-beda dan mic vokal. Karakter benar-benar clean, walaupun gain
di naikkan cukup tinggi, noise mulai terdengar pada level gain yang cukup
ekstrim. Tentu saja dalam implementainya, kita menghindari level yang ekstrim. Begitupun dengan mic vokal, suara yang direproduksi cukup bagus dan rendah
noise, karakter vokal pun tidak berubah. Konklusinya preamp VITA™ ini cocok
untuk semua kebutuhan audio.
New
ReadyFX
Salah
satu fitur baru dari ProFXv2 adalah FX engine-nya, yang kini menggunakan floating
point DSP, artinya sampling audio dan perhitungan matematika untuk efek-efek
nya dapat dilakukan di resolusi yang tinggi untuk menghasilkan efek dengan
kualitas yang lebih bagus.
Dan
sesuai dengan konsep ReadyFX sebelumnya, preset FX yang diberikan sudah sangat
memadai untuk segala kebutuhan audio tanpa harus repot. Hadir menemani ReadyFX
adalah GEQ 5/7 bands yang dapat di-set untuk main maupun monitor.
Fitur-fitur lainnya adalah USB recording/playback (2x2), FX mute switch, dan juga stereo RCA i/o. Tentunya semuanya diperkuat dengan tagline andalan Mackie Built-Like-a-Tank, yang artinya semua mixer ini sudah cukup tangguh untuk segala kondisi lapangan (mixer jatuh, terkena tumpahan air, dan lain-lain).
Hadir
untuk menambah varian di kelas ini adalah ProFX4v2, dengan 4 line input dan 2
mic input. Mixer 4 channel ini mengakomodasi untuk kebutuhan audio seperti
soloist yang hanya membutuhkan 4 channel (mic vokal, piano/gitar, dan minus
one). Mackie ProFxv2 terdiri dari beberapa seri, antara lain:
Melanjutkan sukses penyelenggaraan Safari Qu-32 ke beberapa kota di Indonesia, kembali Kairos Multi Jaya menggelar acara roadshow yang bersifat edukasi ke beberapa daerah. Tema gelaran roadshow kali ini adalah DigiMix Roadshow, kepanjangan dari Digital Mixer Roadshow.
Objective dari penyelenggaraan DigiMix Roadshow 2015 ini masih tentang program edukasi teknologi digital mixer kepada para pegiat pro audio (sound enginer, pemilik rental, pemilik studio) di kota-kota yang belum mendapatkan kesempatan mencicipinya.
Digitalisasi dalam bidang audio khususnya mixer tidak dapat dibendung. Apabila para pelaku dan pengguna tidak mendapatkan edukasi yang benar tentang digital audio, siapa yang akan menggunakannya nanti? Sedangkan tren yang ada saat ini adalah produsen mixing console mulai memperbanyak varian mixer digital.
Digital mixer sendiri sebenarnya mulai masuk Indonesia sejak awal tahun 2000-an, akan tetapi sampai saat ini penyebaran dan edukasinya masih belum merata keseluruh pelaku industri pro audio di Indonesia. Akibatnya, banyak yang merasa gamang dengan digital mixer dan enggan untuk berpindah dari mixer analog ke digital. Susah, njlimet dan mahal adalah alasan jamak dari pergeseran teknologi tersebut.
Selain bermaterikan tentang pengetahuan digital mixer, pada setiap penyelenggaraan DigiMix Roadshow ini juga disisipi dengan berbagai Pro Tips dalam dunia audio secara umum. Jadi, tidak hanya membahas digital mixer saja.
Mudah dan Murah
Apabila dikaji lebih lanjut, sebenarnya sebuah mixer digital lebih banyak memiliki keunggulan yang didapat. Selain memudahkan pekerjaan sound engineer dengan tersedianya fitur-fitur kedalam sebuah mixer digital untuk menunjang proses mixing, kehadiran digital mixer juga turut meringankan beban pemilik rental untuk memiliki sound sistem yang lebih baik, terutama dikaji dari segi biaya yang dikeluarkan untuk mixer.
Contoh kasus; "Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membeli sistem konvensional (analog)?
Mari berhitung. Anda perlu mixing console analog sekian rupiah. Apakah cukup itu saja? Tentu saja tidak cukup. Anda musti harus melengkapinya dengan Compressor, EQ dan berbagai efek (reverb, delay) agar mixer dapat difungsikan dengan maksimal. Alat-alat yang dibutuhkan tadi sudah pasti beli satu persatu dengan harga yang tidak murah.
Bayangkan dengan mixer digital, semua yang dibutuhkan sudah tersedia didalamnya. Yang terpenting adalah mau atau tidaknya mempelajari digital mixer?
Free!
Program DigiMix Roadshow ini peruntukkan bagi siapapun yang mau berkeinginan untuk maju dan mempelajari digital mixer secara GRATIS oleh product specialist kami! Kami akan membawa berbagai digital mixer untuk dibawa ke kota-kota penyelenggaraan DigiMix Roadshow untuk dipelajari dan dicoba, antara lain; Allen & Heath Qu-32, Allen & Heath Qu-Pac,Mackie DL32R dan berbagai juga perlengkapan audio yang lain.
Tunggu dan ikuti DigiMix Roadshow di kota-kota Anda. Untuk info lebih lanjut, hubungi:
Mackie Creative Reference™ Multimedia Monitors dirancang untuk keperluan home studio, multimedia, AV post-production,broadcast dan berbagai kebutuhan entertainment dengan studio-quality design dalam packaging yang kompak dan elegan. Mackie Creative Reference™ terdiri dari 2 varian, yaitu CR3 dan CR4.
Baik CR3 maupun CR4 memiliki power 50 watt dengan tingkat clarity dan artikulasi yang tinggi. Yang membedakan keduanya adalah woofer yang digunakan, CR3 menggunakan 3″ polypropylene-coated woofer sedangkan CR4 menggunakan ukuran 4". Untuk merespon frekuensi tinggi, keduanya juga sama-sama menggunakan .75" ferrofluid-cooled silk-dome twetter. Perpaduan tersebut menghasilkanfrekuensi yang lebar untuk sebuah multimedia monitor full range (berkisar antara 70Hz - 20kHz). Dengan fitur-fitur premium yang sama dengan fitur monitor mahal lainnya, Mackie CR3 dan CR 4 layak jadi pilihan utama untuk kebutuhan monitor. Dari segi harga, Mackie CR Series sangat terjangkau. Apalagi saat ini sedang berlangsung promo harga special. Dimana Mackie CR Series hanya bisa Anda dapatkan di Online Store tertentu. Berikut daftar online store yang menjalankan program promo exclusive ini :
Beberapa
hari yang lalu saya berkesempatan untuk mencoba produk baru dari Mackie,
Freeplay™! Pada kesan pertama, saya sempat heran dengan bentuknya yang mirip sekali dengan mini
compo, hm… kira-kira apa sih yang menarik dari si Freeplay™ ini?
Mackie FreePlay™
Kalau
kita melihat kebelakang, memang akhir-akhir ini Mackie salalu membuat inovasi
di setiap produknya, sebut saja mixer seri DL yang benar-benar membebaskan sound engineer dari konsolnya, nah kini, portable PA dengan segudang fitur-fitur!
Mari
kita tinjau dari segi teknisnya dulu. Dengan power sampai dengan 300 watts,
speaker ini menjanjikan suara yang cukup keras untuk ukuran sebuah portable PA. Desain
speaker woofer 8” dan dual 1” HF driver membuat frequency responds (65Hz –
20KHz) cukup untuk segala kebutuhan musik. Salah satu keunggulan dari
Freeplay™ ini adalah fasilitas Bluetooth yang tersemat didalamnya, sehingga kita dapat memutar musik
langsung dari gadget kita ataupun mengontrol lewat apps Freeplay (Android/IOS)
ketiga channel mixer dari Mackie Freeplay™ ini.
FreePlay™App
Selain itu juga terdapat built-in mixer didalam portable PA ini, dual combo jack input, satu
stereo mini TRS aux in, TRS mono out, powerful DSP dengan segudang preset
voicing EQ untuk main, feedback destroyer dan juga FX. WOW! Untuk kelas portable PA dengan segudang fitur canggih tersebut, jelas FreePlay™bakal mengguncang pasar!
Okay,
rasanya cukup melihat-lihat spek teknisnya. Kita buktikan performanya. Sebagai source, saya mengkoneksikan iPhone saya dengan FreePlay™ menggunakan fasilitas Bluetooth. Caranya cukup mudah, hanya tinggal menekan
tombol Bluetooth selama satu detik kemudian Freeplay akan mem-broadcast bluetooth
untuk di pairing dengan iPhone saya. Secara otomatis semua output audio di iPhone
saya akan terdengar di Freeplay. Playlist lagu yang saya putar adalah Linda
Ronstadt “When You Wish Upon a Star” dan Jennifer Warnes “The Hunter”.
Pada saat saya memutar lagu Linda Ronstadt, saya dapat mendengar definisi suara Linda yang cukup clear. Tonal vokal Linda di reproduksi dengan baik. Memang di frekuensi rendah agak
sedikit kurang, tetapi dengan sedikit touch-up EQ di low mid semuanya bisa
beres. Di awal lagu terdapat bunyi flute khas yang menjadi critical listening
saya untuk mendengar respon mid-hi, dan menurut saya sudah tereproduksi dengan
baik. Untuk image suaranya saya sempat bingung dengan desain dua driver HF ini,
“sedikit miring rupanya… kurang center”. Ternyata hal ini terjadi karena
saya terlalu dekat dengan speaker ini, sehingga sinyal dari dua driver HF ini
tidak datang bersamaan di kuping saya (posisinya pun dekat dengan dinding,
direct dan suara pantulannya jadi satu)
Lanjut
ke lagu kedua, saya tertarik untuk melihat kegesitan dari speker ini dengan
materi yang lebih dinamik. Transient-transient yang cepat dari snare di lagu
ini tereproduksi cukup baik. Satu hal yang menarik untuk dicatat, speaker ini kenceng!
FreePlay dapat difungsikan sebagai monitor
Setelah
puas dengan musik, saya pun mencoba melakukan test dengan menggunakan
microphone, saya menggunakan mic Audio Technica ATM410 untuk ini. Lanjut
“tes..tes..tes, one two… heee… haaa” seperti biasa hehehe... speaker ini punya
low mid tone yang kaya, agak sedikit over menurut saya. Setelah voicing speaker saya
ubah menjadi voice (speech) barulah suaranya normal. Sekali lagi saya bisa
bilang kalau speaker ini cukup ‘kenceng’! saya mencoba level mic dan main level
maksimum, suara vokal saya tetap direproduksi dengan baik dengan sedikit distorsi.
Secara
keseluruhan saya cukup puas dengan portable speaker ini, fitur-fitur yang
dimiliki speaker ini sudah sangat cukup untuk kebutuhan-kebutuhan audio
portable seperti small venue, single street performer, bahkan untuk kebutuhan non
musik seperti meeting, sekolah dan lain-lain. Sebagai portable PA maupun
personal monitor fungsi dan dan desainnya sangat oke. Apps remote controlnya
sudah cukup intuitif, sehingga pemula sekalipun bisa dengan mudah
mengoperasikannya.
Oh iya, saya lupa bilang, kalau speaker ini
sangat ringan loh, bahkan ada asesoris tasnya. Mau coba sendiri? Silahkan datang ke Mackie Resource Center Jakarta untuk mencoba demo unitnya.
Menindaklanjuti kerjasama distibusi antara antara PT. Kairos Multi Jaya - Powersoft di Indonesia, Sound School akan digelar sebagai salah satu visi dan misi kedua belah pihak dalam memberikan edukasi kepada pasar. Sound School yang akan digelar di Jakarta ini adalah kelanjutan dari event serupa yang telah sukses diadakan di Singapore dan Korea. Acara akan digelar besok pada hari Jumat, tanggal 28 Agustus 2015 di Cendana Room, Hotel Holiday Inn Kemayoran, mulai pukul 13:00 s/d 18:00.
Acara Sound School ini nantinya akan dibawakan langsung oleh Remo Orsoni, technical engineer Powersoft dengan tema bahasan Armonia Pro Audio Suite™.
Sebagai salah satu visi dan misi dalam memberikan edukasi pasar, acara Sound School ini tidak akan dipungut biaya bagi siapapun yang ingin mengikutinya. Untuk mengikuti, Anda harus mendaftar ke PIC yang telah ditunjuk, karena tempat sangat terbatas. Hanya untuk 50 peserta,